Fastest way to know about me

Wisuda

Hari ini, teman saya menyelesaikan pendadarannya. Sebentar lagi, mungkin, dia akan lulus dan nggak kelihatan di kampus lagi seperti biasanya.

Banyak hadiah, bunga, coklat, dan ucapan selamat diberikan ke teman saya ini. Saya jadi membayangkan, ketika saya selesai pendadaran kelak, banyak orang menanti saya diluar ruangan, skripsi saya diterima, dosen penguji dalam hati berkata ‘Kasihan nih, lulusin aja lah..‘, kemudian ujian saya lulus, lalu saya keluar dari ruangan ujian.

Orang orang menyambut saya dengan bunga ala ala lulusan, foto foto ala ala lulusan, mungkin juga barongsai kalau temen saya niat banget. Walaupun saya nggak terlalu tertarik dengan barongsai, tapi saya mengapresiasi apa yang dilakukan teman saya ini. Good job, dude.

Lalu pasti ada yang mengucapkan, ‘Selamat ya co, udah selesai kuliahnya..

Wow? Selamat?

Saya baru saja melangkah meninggalkan dunia perkuliahan yang indah ini dan kamu ngucapin saya dengan kata selamat?

Oke terimakasih. Saya tetap mengapresiasi apapun yang teman saya berikan kepada saya. Kecuali apotas, walaupun saya diberi apotas, tetap nggak bakal saya konsumsi sebagai bentuk saya nggak mengapresiasi teman saya. Paling selang beberapa hari ayam teman saya mati, kalo ayam teman saya sampai kejadian mati berarti udah jelas kalo itu, takdir. Nyawa di tangan Tuhan, gaes.

Apa mungkin cuma saya yang nganggep 3 tahun di SMA itu kurang? Apa mungkin cuma saya yang nganggep 4 tahun kuliah strata 1 itu kurang?

Apa cuma saya yang mungkin kelak di foto kepanitiaan kepanitiaan acara kampus lebih terlihat senang daripada saat wisuda?

Apa cuma saya yang nggak terlalu tertarik film the Last Barongsai? Bukan cuma saya.

Update Post Mele

Yak!

Akhir akhir ini gue emang sering update post baru. Selain karena nikmatnya sinyal 4G Telkomsel, beberapa hal nginspirasi gue buat nulis lagi. I love writting, dude. Dude Harly now or never.

Sekarang adalah jaman dimana orang orang, terutama mahasiswa, sering menyampaikan opini mereka dalam media sosial tentang berbagai macam hal. Makan nulis di medsos, minum nulis di medsos, kenyang nulis di medsos, akhirnya sampai keluar lagi nulis di medsos. Tapi lebih dari itu, beberapa dari mereka berkembang, tulisan tulisan mereka jadi rapi, dengan imbuhan analogi analogi dan analisis yang sangat detil tentang apapun dari mulai keadaan kampus sampai pemerintahan yang ada sekarang. Gue suka bacanya, baca tiap tulisan mereka yang terdengar rasional, seperti sedang membela rakyat atau seperti ahli yang analisanya yang paling tepat.

Salah? Sama sekali tidak.

Ini negara Demokrasi bung, kita semua punya hak untuk demo!’ seperti kata seseorang dalam kolom komentar salah satu OA Line yang mengkritisi aksi demo 121. Gue dalam hati cuma bisa miris, yaelah mas, mau mengkritisi pemerintah kok dikritisi OA Line aja ribut.

Pemerintahan periode ini, bukanlah yang terbaik. Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi lagi, gue nggak tau juga secara detail kekurangan apa yang harus dibenahi, tapi itulah pemerintahan. Karena gue percaya, sesuatu hal boleh terjadi karena seijin Tuhan saja.

Korupsi, ada agar kita lebih teliti pada rekan kerja dan pada diri sendiri biar kalo kalo ada yang mau manfaatin kita buat korupsi, kita nggak kecemplung karena nggak tau. Trus pelakunya adilnya gimana? Yaela ntar juga ketangkep. Kalo ga ketangkep? Yaela ribet amat, ujung ujungnya juga di akhir hayat bakal diadili oleh Sang Maha Adil. Everything gonna be okay, dude. Dude n, buah yang banyak durinya.

Baik, daripada bosen baca tulisan gue yang ngelucunya agak maksa, mending nonton video ini. Daripada aksi yang kurang bermanfaat, mending aksi kayak orang ini:

Bensin

Pertama terimakasih pada Eka yang sudah membuat video Jeremi Teti yang cukup melegenda ini.

Kedua, kejadian ini berlangsung tadi siang. Sewaktu saya dan teman saya berboncengan naik motor kesayangan saya, beati, teman saya yang saya anggap seseorang yang tahu menahu tentang otomotif bertanya, ‘Wah motormu kenapa ini co?’ Saya yang kurang tahu tentang motor tidak mampu berkata kata, hanya bungkam diantara aksara aksara pujangga yang ragu dapat meluluhkan hati pujaannya. Apaansi.

Cek and ricek, ternyata ada campuran sedikit air di bensin motor saya. Seingat saya memang terakhir kali membeli di bensin eceran pinggir jalan karena males kalau harus mampir SPBU yang tidak searah dengan tujuan saya kemarin siang.

Pikir saya waktu membeli, ya mahal dikit ngga apa apa, sekalian bantuin orang usaha. Karena basic saya yang calon ekonom jadi saya harus belajar mengerti orang lain. Eh nggak taunya begini.

Sedih? Nggak, karena diawali dengan niat baik mungkin saya jadi nggak sedih.

Kecewa? Nggak, saya malah kasihan dengan orang lain yang mungkin motornya bisa rusak gara gara bensin kayak tadi.

Terharu? Nggak, ngapain juga terharu yaelah.

Jadi gini pak penjual bensin eceran, saya nggak akan marah ke bapak karena nggak ada faedahnya juga. Tapi apakah bapak pernah berfikir tentang dampaknya?

Berapa juta sih surplus bapak kalo jualan yang campur air?

Bapak tau surplus?

Bapak tau band Coldplay? Atau Eka Gustiwana yang sering ngedit suara? Bapak tau? Bagus kalau tau, berarti bapak up to date.

Pak, kalau sudah ketahuan gini saya yang notabennya cuma pengen nolongin bapak jadi males balik kesana. Bapak kepepet ya nyampur air segala?

Kalau model kepepetnya bapak seperti itu nggak bakal ada yang beli untuk kedua kalinya pak, kecuali kepepet.

Yaudahlah, ini juga cuma kepepet aja daripada marah marah gara gara beatiku tersakiti, toh bapak kemungkinan besar nggak baca post saya. Bapak tau yuyuadadisini.wordpress.com?

Saatnya Mejamkan Mata

Bagi saya, setiap waktu sangat berharga. Setiap waktu yang saya gunakan untuk tidur adalah waktu yang terbuang, namun tetap saja tidur menjadi prioritas utama.

Jaman dimana saya berjuang sudah berbeda, dulu ketika saya masih bersekolah, saya bisa mengisi tenaga di sekolah dengan cara tidur. Lalu bisa begadang sampai malam. Belajar? Ya, belajar game online.

Namun sekarang saya sudah lulus dari sekolah, waktu tidur saya jadi kurang. Ironis? Ya, ironman.

Bukan, saya bukan pecandu game online apalagi pencetus hukum relativitas, karena sudah jelas bung Albert adalah penemunya.

E = mcc

Ya begitulah susah senangnya jadi penulis blog yang fasilitasnya kurang memadai. Taukan kamu? Mnc Group merupakan pengembangan teori relativitas mcc? Wow? Marilah seluruh rakyat Indonesia arahkan pandanganmu kedepan? Raihlah mimpimu bagi nusa bangsa? Satukan tekat untuk masa depan?

Saya benar benar muak dengan iklan tersebut, saya menjadi candu dengan instrument karya Mozart. Tapi untungnya sekarang Mnc Group menyiarkan pertandingan futsal, jadi luv u Mnc Group.

Sudah ah, sebenernya saya mau tidur tapi malah ngetik post. Dasar anak jaman sekarang, dikasi nasi bungkus mintanya nasi padang. Bye.

Mungkin saya memang bukan penulis ilmiah. Melakukan penelitian setahun penuh, menghabiskan dana yang cukup banyak, mengorbankan waktu, lalu cuma menghasilkan penemuan bakso yang mengandung formalin. Hey dude, nowadays bakso berformalin sudah terlalu biasa untuk kami kaum digital.

Tapi, satu hal ini menggelitik saya untuk meneliti. Setelah cukup geli terkena gelitikan, saya memutuskan untuk meneliti.

Sangat sering kita makan ayam bakar yang disertai lalapan, bukan hanya ayam bakar, ada banyak sekali makanan yang disertai lalapan. Maaf karena keterbatasan waktu tidak semua makanan bisa saya sebutkan.

Lalapan berfungsi sebagai pencuci mulut, karena diambil dari kata dasar ‘lap’ yang dalam bahasa jawa berarti kain untuk membersihkan. Ilmiah sekali bukan?

Dalam lalapan itu sendiri ada berbagai macam sayur mayur, dari timun, sawi, kol, tomat, sate kambing muda, dan lain lain. Nikmat bukan lalapan pakai sate kambing muda? Saya jadi pengen.

Anda pernah nonton film Rogue One: A Starwars Story? Film tersebut merupakan film Starwars yang keluar dari sekuel dengan keberadaan kronologisnya berada antara seri ke III dan seri ke IV: A New Hope. Saya lupa judulnya yang ketiga, kebetulan saya lagi males browsing. Anda pernah nonton? Bodo amat.

Kembali ke penelitian ilmiah saya. Informatif bukan?

Jadi saya menyoroti pada timun yang disini, notabennya adalah sebagai lalapan. Terkadang timun yang saya makan terasa pahit, itu hal yang cukup mengganggu, setara mengganggunya dengan ibu ibu bawa motor nyalain lampu sen kanan taunya mundur. Wow, cukup mengejutkan.

Kebetulan kali ini saya menyoroti dengan lampu CYC jadi terasa sedikit panas.

Jadi, kalau anda menemukan atau memakan timun lalapan yang terasa pahit, jangan dimakan!

Kenapa?

Penjelasannya simpel saja, karena terasa pahit. Sekian.

Sesantai Santai

Kembali dari Jakarta, jam 3 pagi di boulvard kampus tercinta.

Pagi itu, Fajar, sahabat kontrakan, yang mentang mentang orang Jakarta yang pernah naik bis ke Solo, nggak percaya kalau bis dari Jakarta bakal sampai di Solo jam 3 pagi. Kewajibannya jemput gue dilalaikan demi tidur nyenyak. “Kalau bangun jam 4 bakal gue jemput“, katanya. Padahal jelas jelas jam 3 pagi gue udah sampai di Solo. Yah, beginilah persahabatan.

Akhirnya, Bagas, sahabat lintas kontrakan, yang dengan senang hati menyambut kedatangan gue ke Solo.

Datang dengan keadaan belum makan malem semalem disambung dengan jam sarapan yang masih lumayan pagi, kami mampir ke burjo. Burjo sangat mengerti keadaan mahasiswa yang sewaktu waktu bisa lapar. We love burjo. (Paragraf ini disponsori oleh burjo)

Ngobrol ngalor ngidul dengan Bagas ditemani semangkok indomie, sampai pada pembicaraan ini, “Do you know who is more santai more than me?” kata Bagas yang udah gue inggriskan, biar kelihatan lebih keren. “Who?“, tanya gue balik tapi dalam bahasa sehari hari tentunya. “You.“, jawab Bagas yang membuat gue tercengang. Biasa aja sih sebenernya, biar mendramatisir aja.

Gue nggak tau kenapa begitu banyak orang menilai gue adalah orang yang santai banget. Padahal sebenernya gue cuma menikmati hidup, mengurangi hal hal nggak penting kek marah, dendam, iri, cemas, dan hal hal yang lain yang menurut gue nggak penting.

Contohnya kalo di jalan ada orang hampir nabrak gue kurang 1 cm lagi, paling gue cuma degdegan dan nggak marah. Karena ada hal yang bisa gue syukuri: cuma hampir nabrak.

Lagi, gue orangnya jarang banget bisa iri, apalagi dengan hal hal yang gue nggak tertarik. Misal ada orang ipknya 4.00 ya gue biasa aja, gabakalan ngiri, bahkan bukan sesuatu yang wah buat gue. Karena ada hal yang bisa gue syukuri: gue enggak di DO kampus.

Terakhir, gue susah cemas. Karena gue punya moto hidup, everything gonna be okay. Kalo nggak okay sekarang, mungkin nanti, atau mungkin besok. Nggak ada yang perlu dikhawatirin, selalu ada jalan buat kembali ke keadaan okay okay saja.

Jadi, hidup santai bukan tujuan gue, tapi hasil dari beberapa cara berfikir yang selama ini gue pake. Yak, gitu aja. Nggak penting sih, biar blognya kelihatan aktif aja. Mantab soul.

Untuk mbak Panda

Well, (mulai ngepost pake well biar keren) gue lagi posisi di Jakarta, jauh dari rumah.

Beberapa kali terakhir post gue tulis dengan tanggal yang acak, untuk sekedar tidak dibaca ataupun memang gue butuh tempat bercerita.

Tapi post ini ditulis langsung, post saat ini juga. Rabu, 23 November 2016, di salah satu rumah sederhana di Jakarta Timur.

Prolognya lumayan panjang, sekalian ngasih waktu buat mikir darimana gue harus memulai cerita ini.

Baik, dimulai dari awal kita bertemu. Dalam sebuah ruang kelas, gue adalah orang terakhir yang dapat kelompok karena sudah hampir satu bulan gue bolos mata kuliah itu.

Well (well lagi biar keren), dari sana kita kenal. Entah apa yang ada di pikiranmu ketika itu. Mau maunya saja kamu berkenalan dengan kakak tingkat yang nggak jelas masa depannya seperti ini.

Read the rest of this entry »