Fastest way to know about me

Bapak Ojek

Posisi saya sekarang berada di rumah, sedang dikejar deadline besok ada presentasi dengan makalah yang belom saya selesaikan.

Yah, masih banyak waktu luang.

Posisi saya sekarang berada di rumah, sedang kekenyangan karena porsi nasi Spesial Sambal yang saya order pakai Go-Food terlalu besar. Terlalu manusiawi untuk kaum burjo-is yang sering makan ngirit seadanya seperti saya ini.

Beberapa hari yang lalu, hubungan antar sesama pencari rejeki bidang transportasi di kota Solo sedang sedikit memanas.

Posisi saya waktu itu sedang di kontrakan, sepulang kuliah sambil membaca Line today. Portal berita informatif yang cukup menghibur.

Salah satu berita disitu waktu itu, tentang adanya keributan antara supir taksi dan supir gojek di dekat Stasiun Purwosari Solo. Saya cukup terkejut. Apaah?! Begitu saya terkejut.

Supir taksi tersebut mengaku bahwa penghasilannya menurun 70% setelah adanya gojek di Solo. Saya baca di berita sih seperti itu. Bersyukur, waktu itu tidak ada korban, hanya satu motor supir gojek yang dirusak oleh supir taksi. Berarti ada korban dong?

Posisi saya sekarang seorang mahasiswa, bukan supir gojek ataupun supir taksi. Saya tidak punya hak menentukan siapa salah siapa benar, tapi saya punya sedikit pemikiran tentang bagaimana masalah ini sebaiknya.

Mengesampingkan kalimat “Rejeki udah ada yang ngatur.” saya rasa, mau ada gojek ataupun tidak, suatu saat pasti akan ada sistem yang lebih baru yang dengan senang atau tidak, sistem yang lama akan berangsur atau langsung tergusur.

Saya punya teman yang ayahnya supir taksi, saya juga punya teman yang ayahnya supir gojek. Mereka sama, berjuang mencari rejeki untuk menyambung hidup.

Saya kaget sewaktu mendapat undangan petisi kota Solo butuh gojek. Apaah?! Begitu saya kaget. Ternyata usut punya usut, beberapa oknum membuat beberapa deklarasi mengatasnamakan kota Solo bahwa kota Solo menolak gojek. Padahal menurut saya PSG harusnya bisa lolos ke fase berikutnya mengalahkan Barcelona. Yah, begitulah sepakbola.

Hmmmm.

Maaf pak taksi, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, tokoh tokoh yang bertahan pada sistem yang lama harus berjuang lebih untuk mempertahankan eksistensinya.

Bapak taksi atau transportasi umum lain mau protes? Silahkan. Tapi atasnamakan diri sendiri.

Buatlah demo yang menarik Pak, bersih dari kekerasan, penuh hiburan. Buat persaingan ini sehat Pak.

Supir gojek, juga butuh penghasilan. Mereka juga punya keluarga di rumah yang menunggu kepulangan mereka. Mereka berada pada sistem yang lebih modern, dengan masalah baru yang pasti ada bagi mereka sendiri.

Pesan saya, kalau bapak merasa rejekinya menjadi lebih seret, cobalah berusaha lebih keras dan lebih ikhlas, lebih bergantung pada sang pemberi rejeki, bukan dengan menutup rejeki bapak gojek.

Hidup ini memang tidak adil, namun akan lebih tidak adil apabila ada yang berlaku tidak adil dengan mengatasnamakan keadilan.

Posisi saya sekarang seorang mahasiswa, yang sudah menyampaikan isi pemikirannya, yang sebisa mungkin berada pada posisi netral. Semoga baik bapak taksi, bapak gojek, ataupun bapak transportasi umum lain boleh diperlancar rejekinya masing masing. Aamiin.

Calon Anak UI

Kamu mau lanjut kemana? Balik ke Solo aja gih“, dengan penuh basa basi, dengan harapan yang masih tersimpan rapi.

Nggak mas, aku kayaknya ke Unpad aja.

Oh, yaudah, sukses ya.. Hehe..“, berakhirlah percakapan pada malam itu, diiringi dengan berakhirnya harapan suatu saat kita akan memangkas jarak.

Memang bisa terbilang masih terlalu kanak kanak kalau dibilang cinta, atau apalah sebutannya. Bahkan setiap bagian akhir cerita kita pada masa itu, nyaris sangat berkebalikan dengan kata sempurna. Anrupmse, hampir kan? Hehe.

Dari sering menjadi kadang, kehadiranmu dalam lamunku semakin hilang. Ditambah, aku juga sudah mencoba membuka hati saat itu.

Aku, yang tidak ada baik baiknya dimata orang lain, maupun dimataku. Kamu, entah dengan alasan apa, sampai menunda keberangkatanmu ke Jakarta selama 1 tahun.

Semua alasan yang kamu katakan sangat logis, atau memang benar benar apa yang terjadi. Lalu aku, yang tidak ada baiknya ini, menyianyiakan 1 tahun kesempatan memperbaiki semua yang telah aku luluh lantahkan menjadi lautan api, mari bung rebut kembali. Tapi sama sekali tidak ada yang kembali.

Emang kamu bisa nggak ketemu bertahun tahun trus nyusul kesana?“, tanya papah, sebagai seorang ayah yang antusias menanggapi cerita anaknya.

Nggak tau pah, tapi besok pas kuliah aku bakal masuk UI!“, jawabku dengan polos, karena juga pikirku saat itu Universitas di Jakarta hanya UI.

Baik, kalo gitu jadikan itu motivasi ya co..“, kata papah, yang tidak pernah menyanggah argumenku. Ciri paling khas dari suami tercinta mamah, paling mentok beliau hanya menanyakan sesuatu yang membuat aku menguji argumen yang baru saja aku sampaikan.

Aku, yang akhirnya bermuara di Universitas Negeri di dekat rumah, tidak pernah setulus itu ingin mewujudkan impian hanya untuk bertemu seseorang.

Baik.

Jarak akan menghapus semuanya, rasa rindu, rasa apalah itu, dan mungkin semua rasa bersalahku. Terimakasih untuk selama ini.

Lalu tahun lalu.

Eh, sekarang dia satu alamamater sama kita lho..” kata seorang teman, yang langsung kubantah dengan pernyataan bahwa dia tidak mungkin kembali ke Solo.

Dan, ya. Ternyata benar. Fakultas kita bertetangga.

Kamu? Sama sekali setidak ada kabar itukah sampai harus temanku yang memberitahu? Eh, maaf. Memang aku siapa, jadi lupa diri.

Kamu kembali, dengan keadaan yang berbeda. Pergaulanmu yang ala Jakarta, bahasa lo gue yang sudah sangat lancar. Yah, tidak ada yang salah. Memang mungkin sudah seharusnya seperti ini.

Pertemuan tidak sengaja yang aku sengajakan di kantin fakultasmu, cukup membuat jantung berdebar bahkan sampai aku sudah kembali ke fakultasku. Senyumu, sama sekali tidak berubah.

Baik.

Bukan salahmu, bukan juga salah siapapun. Memang mungkin seharusnya seperti ini, atau tidak seperti ini. Hampir setiap lamun aku memikirkan agar keadaan bisa jadi lebih baik, bukan berarti kita harus bersama lagi.

Aku hanya ingin, masa lalu itu bersahabat dengan masa lalu masa lalu yang lain, yang dengan sopan tidak hadir seenaknya.

Dulu, ulang tahunmu yang ke 17. Aku terlambat mengucapkan padamu 1 hari. Its okay, mungkin kamu juga tidak membutuhkannya.

Saat itu, sahabatmu yang sekarang kuliah di Jogja, berniat mengirimkan sebuah hadiah. Dan kami, aku dan sahabatmu, terlibat sebuah pembicaraan yang entah bagaimana pembicaraan itu bermula.

Aku, bukan semata mata ingin ikut menitipkan hadiah untukmu. Aku hanya ingin mengirim sebuah hadiah, bersama rasa rindu, rasa apalah itu, dan semua rasa bersalahku agar semuanya selesai sudah sampai disitu.

Namun sayang, akhirnya tidak ada satupun yang aku titipkan. Bahkan aku tidak tau apakah sahabatmu jadi mengirimkan hadiah atau tidak.

Sekarang, aku titipkan rasa rindu, rasa apalah itu, dan semua rasa bersalahku pada cerita singkat ini. Aku tidak tahu apakah ini hal yang tepat dilakukan untuk menyelesaikan urusanku dengan rasaku ini. Aku hanya berharap semua berakhir bersama akhir dari cerita singkat ini.

Dan yang terakhir, dengan ini juga, aku berharap yang terbaik, bagi aku, bagi kamu, dan bagi pertemanan kita. Terimakasih untuk selama ini, sayur.

Tukang Parkir

Beberapa minggu yang lalu, saya dan keluarga sedang mencari makan malam bersama diluar rumah. Akhirnya pilihan kami tertuju pada salah satu rumah makan sambal yang ada di dekat rumah kami.

Sesampainya disana, tempat parkirnya sedikit penuh, jadi kami harus putar balik mobil untuk mendapatkan tempat parkir yang pas. Karena waktu itu tidak terlihat adanya tukang parkir, jadi saya harus bertindak menggantikan posisi beliau dengan menjadi juru parkir musiman, ya, musiman karena saya hanya menekuninya saat itu.

Setelah selesai makan dan akan kembali pulang, tiba tiba ada sesosok pria yang meniup peluit sambil minta uang parkir. Yak, tepat sekali, tukang parkir. Sangat tidak terduga. Saya terkejut bukan main, ya emang terkejut itu bukan main sih.

juru-parkir-tukang-parkir_20150809_220749

Maka dari itu, supaya tidak terkejut, saya jelaskan tipe tipe tukang parkir supaya bisa waspada:

Tipe A:

Seperti tukang parkir yang menangani kasus saya tadi, di awal tidak ada, tiba tiba saat kita hendak pulang mereka ada.

Tipe B:

Mereka ini adalah kaum tukang parkir radikal yang meminta uang parkir padahal sudah ada tulisan parkir gratis.

Tipe C:

Tukang parkir yang bertindak seperti mafia, memarkirkan kita di tanda dilarang parkir kemudian menuntut kita secara perdata di meja hijau. Biasanya mereka sudah menempuh Sarjana Hukum spesialis Hukum Perdata.

Tipe D:

Tukang parkir ini kadang ikut dalam mobil anda, sering mencuci pakaian anda, menyapu rumah, menyetrika, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Ternyata dia adalah pembantu rumah tangga anda.

Tipe E:

Tukang parkir yang murah senyum, selalu total dalam mengarahkan pelanggannya ke tempat parkir. Bahkan mereka rela tidak dibayar asalkan banyak orang tertolong dengan kehadirannya.

Tipe F:

Tukang parkir non-konvensional, jasanya bisa dipesan melalui aplikasi android, bisa melalui GO-PARKING atau GRABPARKING. Jangan lupa kasih rating bintang 5 ya, mereka juga bekerja dengan halal untuk keluarga mereka.

Wisuda

Hari ini, teman saya menyelesaikan pendadarannya. Sebentar lagi, mungkin, dia akan lulus dan nggak kelihatan di kampus lagi seperti biasanya.

Banyak hadiah, bunga, coklat, dan ucapan selamat diberikan ke teman saya ini. Saya jadi membayangkan, ketika saya selesai pendadaran kelak, banyak orang menanti saya diluar ruangan, skripsi saya diterima, dosen penguji dalam hati berkata ‘Kasihan nih, lulusin aja lah..‘, kemudian ujian saya lulus, lalu saya keluar dari ruangan ujian.

Orang orang menyambut saya dengan bunga ala ala lulusan, foto foto ala ala lulusan, mungkin juga barongsai kalau temen saya niat banget. Walaupun saya nggak terlalu tertarik dengan barongsai, tapi saya mengapresiasi apa yang dilakukan teman saya ini. Good job, dude.

Lalu pasti ada yang mengucapkan, ‘Selamat ya co, udah selesai kuliahnya..

Wow? Selamat?

Saya baru saja melangkah meninggalkan dunia perkuliahan yang indah ini dan kamu ngucapin saya dengan kata selamat?

Oke terimakasih. Saya tetap mengapresiasi apapun yang teman saya berikan kepada saya. Kecuali apotas, walaupun saya diberi apotas, tetap nggak bakal saya konsumsi sebagai bentuk saya nggak mengapresiasi teman saya. Paling selang beberapa hari ayam teman saya mati, kalo ayam teman saya sampai kejadian mati berarti udah jelas kalo itu, takdir. Nyawa di tangan Tuhan, gaes.

Apa mungkin cuma saya yang nganggep 3 tahun di SMA itu kurang? Apa mungkin cuma saya yang nganggep 4 tahun kuliah strata 1 itu kurang?

Apa cuma saya yang mungkin kelak di foto kepanitiaan kepanitiaan acara kampus lebih terlihat senang daripada saat wisuda?

Apa cuma saya yang nggak terlalu tertarik film the Last Barongsai? Bukan cuma saya.

Update Post Mele

Yak!

Akhir akhir ini gue emang sering update post baru. Selain karena nikmatnya sinyal 4G Telkomsel, beberapa hal nginspirasi gue buat nulis lagi. I love writting, dude. Dude Harly now or never.

Sekarang adalah jaman dimana orang orang, terutama mahasiswa, sering menyampaikan opini mereka dalam media sosial tentang berbagai macam hal. Makan nulis di medsos, minum nulis di medsos, kenyang nulis di medsos, akhirnya sampai keluar lagi nulis di medsos. Tapi lebih dari itu, beberapa dari mereka berkembang, tulisan tulisan mereka jadi rapi, dengan imbuhan analogi analogi dan analisis yang sangat detil tentang apapun dari mulai keadaan kampus sampai pemerintahan yang ada sekarang. Gue suka bacanya, baca tiap tulisan mereka yang terdengar rasional, seperti sedang membela rakyat atau seperti ahli yang analisanya yang paling tepat.

Salah? Sama sekali tidak.

Ini negara Demokrasi bung, kita semua punya hak untuk demo!’ seperti kata seseorang dalam kolom komentar salah satu OA Line yang mengkritisi aksi demo 121. Gue dalam hati cuma bisa miris, yaelah mas, mau mengkritisi pemerintah kok dikritisi OA Line aja ribut.

Pemerintahan periode ini, bukanlah yang terbaik. Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi lagi, gue nggak tau juga secara detail kekurangan apa yang harus dibenahi, tapi itulah pemerintahan. Karena gue percaya, sesuatu hal boleh terjadi karena seijin Tuhan saja.

Korupsi, ada agar kita lebih teliti pada rekan kerja dan pada diri sendiri biar kalo kalo ada yang mau manfaatin kita buat korupsi, kita nggak kecemplung karena nggak tau. Trus pelakunya adilnya gimana? Yaela ntar juga ketangkep. Kalo ga ketangkep? Yaela ribet amat, ujung ujungnya juga di akhir hayat bakal diadili oleh Sang Maha Adil. Everything gonna be okay, dude. Dude n, buah yang banyak durinya.

Baik, daripada bosen baca tulisan gue yang ngelucunya agak maksa, mending nonton video ini. Daripada aksi yang kurang bermanfaat, mending aksi kayak orang ini:

Bensin

Pertama terimakasih pada Eka yang sudah membuat video Jeremi Teti yang cukup melegenda ini.

Kedua, kejadian ini berlangsung tadi siang. Sewaktu saya dan teman saya berboncengan naik motor kesayangan saya, beati, teman saya yang saya anggap seseorang yang tahu menahu tentang otomotif bertanya, ‘Wah motormu kenapa ini co?’ Saya yang kurang tahu tentang motor tidak mampu berkata kata, hanya bungkam diantara aksara aksara pujangga yang ragu dapat meluluhkan hati pujaannya. Apaansi.

Cek and ricek, ternyata ada campuran sedikit air di bensin motor saya. Seingat saya memang terakhir kali membeli di bensin eceran pinggir jalan karena males kalau harus mampir SPBU yang tidak searah dengan tujuan saya kemarin siang.

Pikir saya waktu membeli, ya mahal dikit ngga apa apa, sekalian bantuin orang usaha. Karena basic saya yang calon ekonom jadi saya harus belajar mengerti orang lain. Eh nggak taunya begini.

Sedih? Nggak, karena diawali dengan niat baik mungkin saya jadi nggak sedih.

Kecewa? Nggak, saya malah kasihan dengan orang lain yang mungkin motornya bisa rusak gara gara bensin kayak tadi.

Terharu? Nggak, ngapain juga terharu yaelah.

Jadi gini pak penjual bensin eceran, saya nggak akan marah ke bapak karena nggak ada faedahnya juga. Tapi apakah bapak pernah berfikir tentang dampaknya?

Berapa juta sih surplus bapak kalo jualan yang campur air?

Bapak tau surplus?

Bapak tau band Coldplay? Atau Eka Gustiwana yang sering ngedit suara? Bapak tau? Bagus kalau tau, berarti bapak up to date.

Pak, kalau sudah ketahuan gini saya yang notabennya cuma pengen nolongin bapak jadi males balik kesana. Bapak kepepet ya nyampur air segala?

Kalau model kepepetnya bapak seperti itu nggak bakal ada yang beli untuk kedua kalinya pak, kecuali kepepet.

Yaudahlah, ini juga cuma kepepet aja daripada marah marah gara gara beatiku tersakiti, toh bapak kemungkinan besar nggak baca post saya. Bapak tau yuyuadadisini.wordpress.com?

Saatnya Mejamkan Mata

Bagi saya, setiap waktu sangat berharga. Setiap waktu yang saya gunakan untuk tidur adalah waktu yang terbuang, namun tetap saja tidur menjadi prioritas utama.

Jaman dimana saya berjuang sudah berbeda, dulu ketika saya masih bersekolah, saya bisa mengisi tenaga di sekolah dengan cara tidur. Lalu bisa begadang sampai malam. Belajar? Ya, belajar game online.

Namun sekarang saya sudah lulus dari sekolah, waktu tidur saya jadi kurang. Ironis? Ya, ironman.

Bukan, saya bukan pecandu game online apalagi pencetus hukum relativitas, karena sudah jelas bung Albert adalah penemunya.

E = mcc

Ya begitulah susah senangnya jadi penulis blog yang fasilitasnya kurang memadai. Taukan kamu? Mnc Group merupakan pengembangan teori relativitas mcc? Wow? Marilah seluruh rakyat Indonesia arahkan pandanganmu kedepan? Raihlah mimpimu bagi nusa bangsa? Satukan tekat untuk masa depan?

Saya benar benar muak dengan iklan tersebut, saya menjadi candu dengan instrument karya Mozart. Tapi untungnya sekarang Mnc Group menyiarkan pertandingan futsal, jadi luv u Mnc Group.

Sudah ah, sebenernya saya mau tidur tapi malah ngetik post. Dasar anak jaman sekarang, dikasi nasi bungkus mintanya nasi padang. Bye.