Fastest way to know about me

Archive for Maret, 2017

Bapak Ojek

Posisi saya sekarang berada di rumah, sedang dikejar deadline besok ada presentasi dengan makalah yang belom saya selesaikan.

Yah, masih banyak waktu luang.

Posisi saya sekarang berada di rumah, sedang kekenyangan karena porsi nasi Spesial Sambal yang saya order pakai Go-Food terlalu besar. Terlalu manusiawi untuk kaum burjo-is yang sering makan ngirit seadanya seperti saya ini.

Beberapa hari yang lalu, hubungan antar sesama pencari rejeki bidang transportasi di kota Solo sedang sedikit memanas.

Posisi saya waktu itu sedang di kontrakan, sepulang kuliah sambil membaca Line today. Portal berita informatif yang cukup menghibur.

Salah satu berita disitu waktu itu, tentang adanya keributan antara supir taksi dan supir gojek di dekat Stasiun Purwosari Solo. Saya cukup terkejut. Apaah?! Begitu saya terkejut.

Supir taksi tersebut mengaku bahwa penghasilannya menurun 70% setelah adanya gojek di Solo. Saya baca di berita sih seperti itu. Bersyukur, waktu itu tidak ada korban, hanya satu motor supir gojek yang dirusak oleh supir taksi. Berarti ada korban dong?

Posisi saya sekarang seorang mahasiswa, bukan supir gojek ataupun supir taksi. Saya tidak punya hak menentukan siapa salah siapa benar, tapi saya punya sedikit pemikiran tentang bagaimana masalah ini sebaiknya.

Mengesampingkan kalimat “Rejeki udah ada yang ngatur.” saya rasa, mau ada gojek ataupun tidak, suatu saat pasti akan ada sistem yang lebih baru yang dengan senang atau tidak, sistem yang lama akan berangsur atau langsung tergusur.

Saya punya teman yang ayahnya supir taksi, saya juga punya teman yang ayahnya supir gojek. Mereka sama, berjuang mencari rejeki untuk menyambung hidup.

Saya kaget sewaktu mendapat undangan petisi kota Solo butuh gojek. Apaah?! Begitu saya kaget. Ternyata usut punya usut, beberapa oknum membuat beberapa deklarasi mengatasnamakan kota Solo bahwa kota Solo menolak gojek. Padahal menurut saya PSG harusnya bisa lolos ke fase berikutnya mengalahkan Barcelona. Yah, begitulah sepakbola.

Hmmmm.

Maaf pak taksi, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, tokoh tokoh yang bertahan pada sistem yang lama harus berjuang lebih untuk mempertahankan eksistensinya.

Bapak taksi atau transportasi umum lain mau protes? Silahkan. Tapi atasnamakan diri sendiri.

Buatlah demo yang menarik Pak, bersih dari kekerasan, penuh hiburan. Buat persaingan ini sehat Pak.

Supir gojek, juga butuh penghasilan. Mereka juga punya keluarga di rumah yang menunggu kepulangan mereka. Mereka berada pada sistem yang lebih modern, dengan masalah baru yang pasti ada bagi mereka sendiri.

Pesan saya, kalau bapak merasa rejekinya menjadi lebih seret, cobalah berusaha lebih keras dan lebih ikhlas, lebih bergantung pada sang pemberi rejeki, bukan dengan menutup rejeki bapak gojek.

Hidup ini memang tidak adil, namun akan lebih tidak adil apabila ada yang berlaku tidak adil dengan mengatasnamakan keadilan.

Posisi saya sekarang seorang mahasiswa, yang sudah menyampaikan isi pemikirannya, yang sebisa mungkin berada pada posisi netral. Semoga baik bapak taksi, bapak gojek, ataupun bapak transportasi umum lain boleh diperlancar rejekinya masing masing. Aamiin.