Fastest way to know about me

Calon Anak UI

Kamu mau lanjut kemana? Balik ke Solo aja gih“, dengan penuh basa basi, dengan harapan yang masih tersimpan rapi.

Nggak mas, aku kayaknya ke Unpad aja.

Oh, yaudah, sukses ya.. Hehe..“, berakhirlah percakapan pada malam itu, diiringi dengan berakhirnya harapan suatu saat kita akan memangkas jarak.

Memang bisa terbilang masih terlalu kanak kanak kalau dibilang cinta, atau apalah sebutannya. Bahkan setiap bagian akhir cerita kita pada masa itu, nyaris sangat berkebalikan dengan kata sempurna. Anrupmse, hampir kan? Hehe.

Dari sering menjadi kadang, kehadiranmu dalam lamunku semakin hilang. Ditambah, aku juga sudah mencoba membuka hati saat itu.

Aku, yang tidak ada baik baiknya dimata orang lain, maupun dimataku. Kamu, entah dengan alasan apa, sampai menunda keberangkatanmu ke Jakarta selama 1 tahun.

Semua alasan yang kamu katakan sangat logis, atau memang benar benar apa yang terjadi. Lalu aku, yang tidak ada baiknya ini, menyianyiakan 1 tahun kesempatan memperbaiki semua yang telah aku luluh lantahkan menjadi lautan api, mari bung rebut kembali. Tapi sama sekali tidak ada yang kembali.

Emang kamu bisa nggak ketemu bertahun tahun trus nyusul kesana?“, tanya papah, sebagai seorang ayah yang antusias menanggapi cerita anaknya.

Nggak tau pah, tapi besok pas kuliah aku bakal masuk UI!“, jawabku dengan polos, karena juga pikirku saat itu Universitas di Jakarta hanya UI.

Baik, kalo gitu jadikan itu motivasi ya co..“, kata papah, yang tidak pernah menyanggah argumenku. Ciri paling khas dari suami tercinta mamah, paling mentok beliau hanya menanyakan sesuatu yang membuat aku menguji argumen yang baru saja aku sampaikan.

Aku, yang akhirnya bermuara di Universitas Negeri di dekat rumah, tidak pernah setulus itu ingin mewujudkan impian hanya untuk bertemu seseorang.

Baik.

Jarak akan menghapus semuanya, rasa rindu, rasa apalah itu, dan mungkin semua rasa bersalahku. Terimakasih untuk selama ini.

Lalu tahun lalu.

Eh, sekarang dia satu alamamater sama kita lho..” kata seorang teman, yang langsung kubantah dengan pernyataan bahwa dia tidak mungkin kembali ke Solo.

Dan, ya. Ternyata benar. Fakultas kita bertetangga.

Kamu? Sama sekali setidak ada kabar itukah sampai harus temanku yang memberitahu? Eh, maaf. Memang aku siapa, jadi lupa diri.

Kamu kembali, dengan keadaan yang berbeda. Pergaulanmu yang ala Jakarta, bahasa lo gue yang sudah sangat lancar. Yah, tidak ada yang salah. Memang mungkin sudah seharusnya seperti ini.

Pertemuan tidak sengaja yang aku sengajakan di kantin fakultasmu, cukup membuat jantung berdebar bahkan sampai aku sudah kembali ke fakultasku. Senyumu, sama sekali tidak berubah.

Baik.

Bukan salahmu, bukan juga salah siapapun. Memang mungkin seharusnya seperti ini, atau tidak seperti ini. Hampir setiap lamun aku memikirkan agar keadaan bisa jadi lebih baik, bukan berarti kita harus bersama lagi.

Aku hanya ingin, masa lalu itu bersahabat dengan masa lalu masa lalu yang lain, yang dengan sopan tidak hadir seenaknya.

Dulu, ulang tahunmu yang ke 17. Aku terlambat mengucapkan padamu 1 hari. Its okay, mungkin kamu juga tidak membutuhkannya.

Saat itu, sahabatmu yang sekarang kuliah di Jogja, berniat mengirimkan sebuah hadiah. Dan kami, aku dan sahabatmu, terlibat sebuah pembicaraan yang entah bagaimana pembicaraan itu bermula.

Aku, bukan semata mata ingin ikut menitipkan hadiah untukmu. Aku hanya ingin mengirim sebuah hadiah, bersama rasa rindu, rasa apalah itu, dan semua rasa bersalahku agar semuanya selesai sudah sampai disitu.

Namun sayang, akhirnya tidak ada satupun yang aku titipkan. Bahkan aku tidak tau apakah sahabatmu jadi mengirimkan hadiah atau tidak.

Sekarang, aku titipkan rasa rindu, rasa apalah itu, dan semua rasa bersalahku pada cerita singkat ini. Aku tidak tahu apakah ini hal yang tepat dilakukan untuk menyelesaikan urusanku dengan rasaku ini. Aku hanya berharap semua berakhir bersama akhir dari cerita singkat ini.

Dan yang terakhir, dengan ini juga, aku berharap yang terbaik, bagi aku, bagi kamu, dan bagi pertemanan kita. Terimakasih untuk selama ini, sayur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: