Fastest way to know about me

Kamu dan Anganku yang Semu

Tepat tahun lalu. Sejak pertamakali kata itu terucap. Tak ada maksud serius sama sekali. Ya, aku hanya ‘cus’ ke kota kecil dimana jarak dengan rumahku sudah tidak bisa dikatakan dekat.

Aku, yang sedang dalam keadaan tidak tenang, hanya ingin mencari senang. Sekedar melintasi kota dengan teman baru, dengan suasana baru, dengan yah sebuah harapan baru.

Entah apa ramuanmu, semakin hari aku semakin yakin, bahwa pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan. Kita dipertemukan untuk suatu alasan, yang aku pun tidak tahu.

Merasa menemukan dia yang bisa menerimaku apa adanya, siapa yang tidak senang? Aku yang notabennya bajingan bagi beberapa orang ini mendapat kesempatan sebagai seorang biasa yang bukan bajingan. Bahkan aku, sangat menikmati obrolan kita disetiap 2 x 45 menit setan merah bertanding. Aku, benar benar yakin, kebetulan hanyalah omong kosong, kita memang dipertemukan.

Setelah peristiwa ditengah hujan, dibawah lampu merah salah satu perempatan besar di Klaten itu, hubungan kita berubah. Menjadi semakin erat, dan erat. Tak sedikitpun aku berfikir kamu akan berubah, bahkan yang kupikirkan hanyalah pertemuan kita yang sudah diatur jauh sebelum kita berkenalan.

Namun sikapmu, entah karena merasa sudah memilikiku atau apa, menjadi seorang pengatur. Keseharian hanya tentang tiga hal, aku, kamu, atau kita. Awalnya aku merasa biasa saja, mungkin memang seperti ini perjuangannya, sedikit perjuangan dan kita akan menjadi perangko.

Namun tidak, sama sekali tidak. Sikapmu semakin  menjadi jadi, kamu terus memaksaku menjadi seseorang yang sama sekali bukan aku. Sampai akhirnya, sabar seseorang telah habis dan tak mampu lagi berkata apa.

Aku tercengang.

Kamu, yang aku pikir seorang yang sungguh berbeda, bisa seperti ini. Mungkin karena fisikku yang sedang sangat lelah, namun tetap saja sikapmu benar benar membuatku tidak sabar. Kamu mulai melupakan hal hal penting seperti obrolan 2 x 45 menit setan merah dan hanya berfokus pada relationship goals versimu.

Baik. Sampai disini aku menyerah.

Kamu terus datang tanpa memperhatikan langkahmu yang membuatku semakin menjauh. Aku tak akan mengatakan mengapa, yang jelas, aku ingin kamu tetap apa adanya. Jika memang kamu seperti itu, baiklah, biar aku yang mengalah.

Mungkin memang aku tetap aku, si bajingan, yang sangat tinggi egonya tidak mau memberi kesempatan padamu. Karena bajingan itu tau, sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa memenuhi apa yang menjadi maumu, maka tidak akan ada jalan baginya kepadamu ataupun sebaliknya.

Aku rasa cukup, setahun sudah kita berkenalan, nampaknya kamu menemukan orang yang salah.

Jangan sekali sekali menatapku dengan penuh rindu melalui fotomu yang entah sampai kapan masih kusimpan. Aku terlalu tinggi menggantungkan impianku bersamamu, mungkin aku juga perlu waktu untuk jatuh, sampai ke tanah, dimana aku tidak bisa melihat mimpi mimpi itu lagi.

Solo, 12 November 2016 (1:17 AM)

Tertanda,

Si bajingan yang belum terlelap karenamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: