Fastest way to know about me

Sepatu Futsal

Gue bukan mau pamer ya, gue cuma mau nunjukin aja kalo gue punya sepatu futsal. Muhehe. Walaupun kualitas super palsu, gue suka pake sepatu gue ini, masalanya juga gue suka futsal. Sejak pertamakali gue futsal, gue nggak pernah pake sepatu, jadi main di kampung sama di tempat futsalan sama aja. Gue butuh sesuatu yang berbeda, akhirnya gue belilah sepatu futsal.

Gue beli sepatu futsal karena tiap futsal kaki gue ngapal, gue jadi males aja gitu, tiap futsal ngapal, tiap futsal ngapal, semacam ngancurin mood gitu, tendangan gue juga nggak kenceng kenceng amat, apalagi dulu gue pernah cidera lutut gara gara tabrakan, hehe, kalo tabrakan diitung cidera nggak sih? Nah, dengan ini gue punya alesan logis buat gue beli sepatu futsal.

Ini sepatu futsal gue:

#Vierzehn

#Vierzehn

Sepatu kesayangan gue ini gue kasih nama Vierzehn. Iya, lebih keren dari Yuyu. Vierzehn itu bahasa Jerman, gue cari di google translate sih, artinya 14. Gue suka angka 14, dengan alesan yang kalian nggak perlu tau, haha. Kalo kalian ada di daerah Mojosongo, Solo, atau sekitar Solo dan pengen ngajak gue futsal bareng, bisa komen di post ini. Nanti bisa ketemu Vierzehn loh.

Pertama kali gue pake Vierzehn buat futsal itu tanggal 23 Maret 2013 kemaren. Udah mirip tanggal jadian gitu. Gue jadi lebih enak mainnya, apalagi gue nggak mikirin bakal ngapal lagi, pokoknya Vierzehn sepatu sejati gue deh. Tapi, mungkin karena sepatu baru, kelingking kaki gue lecet, yaudah, mau gimana lagi. Untuk mendapat pengakuan dan kebenaran kaki gue nggak kenapa kenapa, gue tanya ke temen gue namanya Bimo. “Bim, kaki gue kenapa nih?” kata gue. “Wah, kenapa tuh, jangan jangan varises!” jawab Bimo. Gue kaget aja denger varises. Biasanya Bimo nggak ngomongin tentang bahasa yang sulit diucap. Pulangnya gue langsung browsing apa itu varises. Gue makin takut gara gara penyebab varises adalah kelamaan berdiri atau menumpukan kaki waktu duduk. Padahal gue sering duduk bersila, sering juga duduk sambil numpukin kaki. Waktu futsal gue juga berdiri terus. Kampret! Serem!

Kemudian gue ngeliatin Vierzehn yang ada di bawah kursi, gue sedih. Sesuatu yang gue percaya, gue banggakan, hampir membunuh gue dengan varises. Keesokan harinya lecet gue sembuh, ternyata bukan varises. Hahaha. Emang kadang seseorang harus percaya pada sesuatu yang disayang, bukan kata kata orang lain. Yeah, ini cerita gue sama Vierzehn, gimana cerita lo?😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: